Senin, 28 Februari 2011

CUCI MULUT ATAU MULUT CUCI ??

Assalamualikum, pembaca cerdas.
semoga Allah selalu melimpahkan nikmat sehat dan berkahNya sehingga kita dapat menjalani aktivitas harian dengan penuh semangat dan ikhlas.

"hm..sudah makan belum??.." Bagi orang Sumatra kalimat ini adalah sapaan sekaligus ajakan hangat terhadap sahabat, relasi atau keluarga ketika bersua ataupun pada saat menerima tamu yang datang berkunjung.

Berbicara masalah makan,
Seringkali di jamuan pesta atau acara ramah tamah, menu makanan yang dihidangkan bervariasi atau bisa dibilang komplit. Ada makanan pembuka, makan (selanjutnya kita sebut makanan berat) dan makanan penutup (sejenis buah-buahan) yang lazim disebut cuci mulut.


Entah sudah menjadi tradisi, pelatihan yang sedikit kurang tepat atau berawal dari hanya melihat kebiasaan orang-mencoba-dan akhirnya terbiasa mungkin. Selama ini yang terjadi pada kebanyakan orang ketika menghadiri jamuan makan atau pesta, makanan penutup dimakan diakhir acara makan/jamuan/pesta. Setelah minum, sama seperti judulnya yakni penutup.
Ternyata apa yang selama ini kita lakukan'KELIRU' menurut Rasulullah.


Lantas, Bagaimana cara Rasulullah mengkonsumsi buah?

Rasulullah selalu memakan buah sebelum makan makanan yang mengandung lemak, protein, dan pati murni (daging, gandum, dll). Bukan sebaliknya seperti yang sekarang ini masih sering dilakukan oleh kebanyakan orang..

Buah tidak bersifat asam seperti anggapan kita selama ini, malah makanan pati (nasi) dan protein (daging) akan meningkatkan asam lambung karena asam lambung dibutuhkan untuk mencernanya. Buah memang seharusnya berfungsi sebagai "penggugah selera", bukan sebagai "pencuci mulut" karena di dalam lambung buah akan bersifat basa, bahkan jeruk dan buah berasa asam seperti nanas sekalipun..

Untuk melapisi lambung, setiap pagi sebelum sarapan biasakan minum madu yang diberi perasan air jeruk nipis secukupnya, lalu awali pagi dengan makan buah potong/jus buah sebelum sarapan. Rasulullah sendiri biasanya minum madu dengan minyak habbatussauda dan minyak zaitun.

Perlu diingat!! Konsumsi buah dulu, baru makan makanan berat. Jangan terbalik sebab dalam jangka panjang bisa jadi kesehatan kita akan terganggu karena perilaku makan kita yang salah..

Mengapa bisa begitu?

Sebab jika buah dikonsumsi setelah makan “makanan berat”, maka yang terjadi adalah buah tersebut akan terfermentasi di organ pencernaan. Buah hanya membutuhkan waktu cerna yang lebih pendek dibanding “makanan berat” yang pada umumnya mengandung pati, lemak dan protein..

Apabila pola makan kita terbalik, seperti yang selama ini dilakukan maka buah yang sebenarnya hanya butuh waktu cerna sekitar 10-45 menit dipaksa harus menunggu “makanan berat” itu selesai dicerna terlebih dulu. Padahal waktu yang dibutuhkan untuk mencerna “makanan berat” tadi lamanya bisa sampai 2 jam lebih. Itulah sebabnya mengapa setelah makan “makanan berat” kadang kita jadi mengantuk sedangkan setelah makan buah kita justru makin segar, ini karena buah dapat mencerna dirinya sendiri dan relatif tidak membutuhkan enzim dari tubuh kita dalam proses pencernaannya..

Gara-gara buah dipaksa untuk “mengantri” secara dzolim itulah akhirnya dia keburu terfermentasi atau bahkan membusuk di dalam organ cerna. Hasil pembusukan itu yang dalam jangka panjang akan menempel di usus hingga menyebabkan kerak pada usus, atau bisa juga menyebabkan darah menjadi asam karena terjadinya efek oksidasi..

Bagaimana kalau perilaku makan kita selama ini salah, apakah bisa berbahaya bagi kesehatan tubuh?

Ya, sangat berbahaya!
Karena kerak yang menempel pada usus dalam jangka panjang bisa menyebabkan kanker kolon dan efek oksidasi yang berkepanjangan bisa menyebabkan migrain, vertigo, hingga stroke! Belum lagi jika pada akhirnya problem itu merembet juga ke masalah-masalah kesehatan lain yang jauh lebih pelik.. Untuk itu mari kita hidup sehat ala Rasulullah. Wallahu'alam.

1 komentar:

  1. mantap nih.
    mohon kunjungannya juga di blog sebelah
    http://romidwisyahri95.blogspot.com/

    BalasHapus