Jumat, 14 April 2023

PENGAMBILAN KEPUTUSAN BERBASIS NILAI-NILAI KEBAJIKAN SEBAGAI PEMIMPIN Oleh: Welly Julita CGP Angkatan 7 Kabupaten Kaur

 

                                     Dokumentasi pribadi

Pada kesempatan ini saya ingin berbagi informasi tentang Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin.

Ada baiknya sebelum menguraikan materi pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran mari kita renungkan kalimat bijak berikut:

“ Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik ” (Bob Talbert)

Pendidikan adalah suatu proses yang sistematis dan terencana, bukan hanya sekedar mengajarkan murid tentang teori/materi/konten namun bagaimana semua itu masuk kedalam kalbu alam pikir mereka sehingga semua akan berdampak pada perilaku dan karakter karena manusia beradab lebih baik dari orang berilmu. Ilmu yang baik dilandasi oleh karakter baik sehingga murid dapat menjalankan kehidupan dengan Bahagia dan keselamatan setinggi-tingginya.

Seorang pendidik harus mampu menjadi telaadan utama bagi murid-muridnya, dengan keteladanan  perkataan maupun tindakan semua tercermin dalam kesehariannya. Menjadi pendidik berarti kita siap menjadi role model semua nilai kebajikan bagi peserta didik dan seluruh warga sekolah bahkan di lingkungan kita tinggal.

Kita sebagai pendidik harus mampu berkontribusi bagi peserta didik, setiap keputusan yang kita ambil harus berpihak kepada murid dengan dilandasi nilai-nilai kebajikan. Pendidik berkewajiban untuk menyampaikan kebenaran dan keteladanan.

Hal ini sejalan dengan kalimat bijak yang mengatakan:

“ Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku  etis.” (Georg Wilhelm Friedrich Hegel).

Memahami kalimat bijak tersebut Pendidikan merupakan suatu proses menuntun siswa dengan penguatan karakter , norma -norma  sehingga akan menjadi generasi yang memiliki nilai moral, kebajikan dan kebenaran untuk menjalankan kehidupannya. Generasi yang akan datang adalah cerminan pendidikan saat ini yang kita poles seperti membuat maha karya terbaik yang akan mewarnai negeri ini di masa depan.

Baiklah pembaca Budiman, saya akan mencoba mengurai satu persatu jawaban atas pertanyaan terkait “Pengambilan Keputusan berbasis nilai-nilai kebajikan sebagai seorang pemimpin”, sebagaimana yang tertulis berikut ini. Selain membaca, saya juga berharap para pembaca dapat memberi komentar, dan masukan terhadap tulisan ini. Selamat membaca.

                        Dokumentasi pribadi. CGP A7 bersama murid SDN 14 Kaur

1.    Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? 

Ø  Ki Hajar Dewantara dengan filsofi triloka memiliki pengaruh bagaimana seorang guru memngambil keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Semboyan yang pernah dicetuskan oleh KHD dan sampai saat ini masih menjadi landasan berpijak pendidik adalah Ing Ngarso Sung Tulodho (Seorang pemimpin harus mampu memberi tauladan), Ing Madya Mangunkarsa (Seorang pemimpin juga harus mampu memberikan dorongan, semangat dan motivasi dari tengah), Tut Wuri handayani (Seorang pemimpin harus mampu memberi dorongan dari belakang), yang artinya adalah Seorang pemimpin (Guru) harus mampu memberikan teladan dan memberikan semangat dan motivasi dari tengah juga mampu memberikan dorongan dari belakang untuk kemajuan seorang muridnya.  Semboyan yang fenomenal dan memiliki makna mendalam dapat kita jadikan landasan dalam setiap pengambilan keputusan selalu berpihak kepada murid untuk menjadikan generasi cerdas dan berkarakter profil pelajar Pancasila. Hal ini dapat kita lakukan selama proses pembelajaran di sekolah. Tidak hanya konten kurikulum namun transfer nilai -nilai kebajikan dapat kita sampaikan secara terus menerus dengan eksplisit pada pembelajaran dan keteladanan disetiap pengambilan keputusan. Proses pengambilan keputusan yang bertanggungjawab dan humanis

2.    Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan? 

Ø  Proses pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, dan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills) akan mewujudkan Tut wuri handayani dengan memberikan dorongan secara moril maupun materil bagi semua warga sekolah tak terkecuali murid-murid kita. Nilai-nilai kebajikan yang tertanam dalam diri pendidik akan mewarnai setiap pengambilan keputusaan. Sebagai manusia yang beragama,  kita yakin apapun yang kita lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban, begitu pula dengan pengambilan keputusan. Nilai kejujuran, integritas sebagi pendidik akan tergambar dalam keteladanan dan kebijakan – kebijakan yang diambil dalam setiap keputusan

3.    Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut?

Ø  Sebagai pendidik, guru harus memiliki keterampilan coaching. Hal ini sangat membantu dalam pengambilan keputusan. Pendampingan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) oleh  fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran sangat efektif membentu pemahaman saya, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan. Beberapa contoh praktik coaching yang baik memberi gambaran utuh untuk dapat diterapkan di sekolah. Keputusan-keputusan dengan teknik coaching yang berlandaskan etika, nilai-nilai kebajikan, sesuai dengan visi misi sekolah yang berpihak pada murid dan menciptakan budaya positif dilingkungan sekolah. Teknik coaching dengan kesetaraan tidak menggurui  akan menimbulkan rasa nyaman  sehingga coach mampu mengidentifikasi permasalahan dan dapat menyampaikan pertanyaan berbobot dari coachee. Coachee dapat menyampaikan hambatan – hambatan dan dapat menemukan solusi yang sesuai karena coach mampu menjadi penedengar yang baik.  Hal ini penting karena pada akhirnya menciptakan situasi kondusif dan dapat meningkatkan kompetensi peserta didik dan tenaga pendidik. Keterampilan coaching juga dapat menumbuhkan kreativitas dan inovasi peserta didik. Dengan coaching guru dapat mengatasi permasalahan yang dihadapi siswa dalam proses pembelajaran. Sebagai coach yang baik guru memiliki harapan seluruh siswanya dapat menjalankan seluruh tugas dan kewajiban yang diberikan di sekolah sesuai dengan kodrat zaman dan kodrat alam.

4.    Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? 

Ø  Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari sosial emosional sangat mempengaruhi pengambilan keputusan. Setiap keputusan yang diambil hendaknya berlandaskan pada nilai-nilai kebajikan serta regulasi yang ada dan melakukan 9 langkah pengambilan keputusan. Sehingga dengan kedua dasar tersebut kita dapat membedakan dilemma etika atau bujukan moral. Sosial emosional akan menumbuhkan empati dan simpati bagi kita sebagai pendidik. Dengan simpati dan empati kita dapat merasakan apa yang peserta didik alami, dan kita dapat mengidentifikasi permasalahan dengan bijaksana, sehingga dalam pengambilan keputusan kita dapat menggiring murid menciptakan terobosan yang inifatif dan kreatif sebagai alternatif solusi dalam setiap pengambilan keputusan. Sebagai pemimpin pembelajaran setiap keputusan harus berpihak pada murid, berbasis etika dan nilai kebajikan dengan memetakan 4 paradigma dilema etika yaitu individu vs masyarakat, rasa keadilan vs rasa kasihan, kebenaran vs kesetiaan dan jangka pendek vs jangka panjang. Pengambilan keputusan juga berpegang pada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berbasis hasil akhir, prinsip berbasis peraturan, dan prinsip berbasis rasa peduli. Serta dipadukan dengan 9 langkah pengambilan keputusan.

Ø  Adapun 9 keputusan tersebut adalah:

1)    Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan

2)    Menentukan siapa saja yang terlibat

3)    Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4)    Pengujian benar atau salah yang didalamnya terdapat uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji halaman depan koran, uji keputusan panutan/idola

5)    Pengujian paradigma benar lawan benar

6)    Prinsip Pengambilan Keputusan

7)    Investigasi Opsi Trilemma

8)    Buat Keputusan

9)    Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

5.    Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? 

Ø  Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika akan semakin mengasah empati dan simpati seorang pendidik. Empati dan simpati yang terlatih akan mampu mengidentifikasi dan memetakan paradigma dilema etika agar pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran lebih bijak. Tentu saja rasa empati dan pengelolaan diri dengan kesadaran penuh (Mindfulness) akan sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan tersebut. Selain itu pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika juga dapat melatih ketajaman dan ketepatan dalam pengambilan keputusan, sehingga dapat dengan jelas membedakan antara dilemma etika ataukah bujukan moral. Keputusan yang diambil akan semakin akurat dan menjadi keputusan yang dapat mengakomodir kebutuhan murid dan menciptakan keselamatan dan kebahagian semua pihak berdasarkan nilai-nilai kebenaran dan kebajikan.

6.    Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. 

Ø  Keputusan yang kita ambil akan berdampak pada imlementasi pembelajaran dan mempengaruhi situasi di sekolah. Setiap keputusan yang kita ambil harus tepat dan bijak berlandaskan nilai-nilai kebajikan, keteladanan, bijaksana dan tidak melanggar norma. Dengan landasan tersebut kita dapat menciptakan lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.Sehingga murid-murid dapat belajar dengan baik dan dapat mengembangkan kompetensinya. Terwujudnya murid yang Bahagia, cerdas dan berkarakter.

 

7.    Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? 

Ø  Pengambilan keputusan berlandaskan tiga prinsip penyelesaian dilema, mana yang akan dipakai apakah Berpikir Berbasis Hasil Akhir (Ends-Based Thinking), Berpikir Berbasis Peraturan (Rule-Based Thinking) ataukah Berpikir Berbasis Rasa Peduli (Care-Based Thinking). Semua tergantung situasi dan kondisi yang ada.  Namun setiap keputusan pasti ada resiko, pro dan kontra, hal ini menjadi salah satu tantangan. Tantangan yang saya hadapi dalam pengambilan keputusan terhadap kasus – kasus dilemma etika adalah tidak dapat memuaskan semua pihak sehingga ini merupakan satu ganjalan bagi saya. Namun 9 langkah pengambilan keputusan yang saya coba lakukan dapat meminimalkan perasaan tidak nyaman dan keputusan yang saya ambil dapat diterima oleh semua pihak.

8.    Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? 

Ø  Pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil dengan pengajaran memerdekakan murid -murid kita adalah merdeka belajar. Merdeka belajar artinya murid bebas mencapai kesusksesan, kebahagiaan sesuai minat dan potensinya tanpa ada paksaan dan tekanan dari pihak manapun. Hal ini diharapkan murid-murid akan sukses dengan bidangnya masing-masing, bahagia karena sesuai dengan apa yang diinginkannya dan bertanggungjawab akan apa yang menjadi pilihannya. Dengan kata lain semua pengambilan keputusan harus berpihak pada murid, dan guru berfungsi untuk memfasilitasi, memoles bakat dan minat yang sudah ada. Kurikulum merdeka sangat berorientasi pada murid, hal ini terlihat dari kurikulum kelas X di SMA tidak ada lagi kotak-kotak jurusan MIPA, IPS dan Bahasa. Semua siswa menerima materi pelajaran secara utuh dan mendalam. Siswa diberikan kebebasan memilih mata pelajaran sesuai bakat dan minat serta kebutuhannya di kelas XI. Hal ini sangat menguntungkan siswa, siswa mempelajari mata pelajaran sesuai keinginan. Guru hanya memberi gambaran, fasilitas dan mengkondisikan siswa agar memilih secara bertanggungjawab dan sesuai bakat, minat serta kebutuhan. Proses pembelajaran di kelas, guru menyampaikan pembelajaran berdiferensiasi  hal ini merupakan satu contoh keputusan yang berpihak pada murid. العاب روليت Menerapkan secara eksplisit maupun implisit KSE adalah  wujud nyata untuk memfasilitasi dan mengasah keterampilan social smosional murid-murid kita.

9.    Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? 

Ø  Sebagaimana yang telah saya sampaikan sebelumnya bahwa setiap pengambilan keputusan akan membawa dampak baik jangka pendek VS jangka panjang bagi murid-murid. Semua akan terekam dalam memori dan akan menjadi role model bagaimana kelak murid -murid berpikir dan berpijak. Bagaimana dia mengambil keputusan di masyarakat dikemudian hari. Pengambilan keputusan bagi seorang pendidik harus keputusan yang tepat, benar dan bijak melalui pengujian benar salah menggunakan lima uji yaitu uji legal, uji regulasi, uji instuisi, uji publikasi dan uji panutan atau uji idola akan menjadikan pengambilan keputusan kita akurat dan teruji sehingga tidak menyesatkan murid-murid.

10.Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? 

Ø  Kesimpulan akhir yang saya peroleh dari pembelajatana materi ini dan keterkaitannya dengan modul sebelumnya adalah pengambilan keputusan adalah suatu kompetensi atau skill yang harus dimiiki oleh guru dan harus berlandaskan kepada filosofi Ki Hajar Dewantara yang dikaitkan sebagai pemimpin pembelajaran. Secara sadar keputusan itu akan mewarnai pola pikir dan karakter bagi murid-murid. Sekolah sebagai Lembaga yang melakukan proses transfer ilmu dan karakter selalu memberikan pelayanan kepada murid-murid tentu saja banyak pengambilan keputusan yang mewarnai kebijakan-kebijakan sekolah. Guru sebagai pemimpin pembelajaran secara sadar mengambil keputusan bijak, dengan mengedepankan regulasi kesepakatan kelas, keyakinan kelas untuk mewujudkan karakter dan budaya positif dalam kelas. Pengambilan keputusan harus bertujuan mewujudkan budaya positif dan menggunakan alur BAGJA yang akan mengantarkan pada lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman (well being). ربح المال Suasana tersebut akan berdampak  melejitkan kompetensi baik itu pendidik maupun murid. Dalam pengambilan keputusan seorang guru harus memiliki kesadaran penuh (mindfullness) untuk menghantarkan muridnya. Murid yang cerdas dan berkarakter,  menuju profil pelajar Pancasila sesuai harapan kita semua. Dalam perjalanannya menuju profil pelajar pancasila, ada banyak dilema etika dan bujukan moral sehingga diperlukan panduan sembilan langkan pengambilan keputusan dan pengujian keputusan untuk memutuskan dan memecahkan suatu masalah agar keputusan tersebut berpihak kepada murid demi terwujudnya merdeka belajar. Pembelajaran diferensiasi merupakan salah satu bentuk merdeka belajar, karena dengan pembelajaran berdiferensiasi maka kebutuhan murid terpenuhi sesuai bakat, minat dan kecenderungan gaya belajarnya. Pembelajaran kokulikuler juga salah satu implementasi untuk mewujudkan karakter pelajar Pancasila. Berbagai tema dan dimensi yang disiapkan memungkinkan murid terbiasa dengan  nilai-nilai positif dan pada akhirnya menjadi pembiasaan.

11.Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?.

Ø  Dilema etika adalah, kasus yang keduanya benar, tergantung dari sudut mana kita memandang. Sedangkan Bujukan moral adalah kasus yang menyangkut nilai kebenaran dan kesalahan.

 

Ø  Ada 4 Paradigma pengambilan keputusan:

1)    Individu lawan masyarakat

2)    kebenaran lawan kesetiaan

3)    keadilan VS belas kasihan

4)    Jangka Pendek VS jangka panjang

Ø  Ada 3 prinsip mengambil keputusan:

1)    berfikir berbasis akhir

2)    berfikir berbasi aturan

3)    berfikir berbasi  rasa peduli dan

Ø  Ada 9 tahapaan pengambilan dan pengujian keputusan

1)    Mengenali bahwa ada nilai-nilai yang salingbertentangan

2)    Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3)    Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini

4)    Pengujian benar atau salah (uji legal, uji regulias, uji instuisi, uji publikasi, uji panutan/idola)

5)    Pengujian paradigma benar atau salah

6)    Prinsip pengambilan keputusan

7)    Investigasi tri lema

8)    Buat keputusan

9)    meninjau kembali keputusan dan refleksikan

Ø  Hal-hal yang menurut saya diluar dugaan adalah ternyata dalam pengambilan keputusan bukan hanya berdasarkan sesuai pemikiran saja namun perlu melihat 4 paradigma, 3 prinsip dan melakukan 9 langkah pengujian pengambilan keputusan. Selama ini saya berpikir terlalu cepat dan reaktif sehingga keputusan yang saya ambil perlu ditinjau kembali agar tidak merugikan banyak orang.

12.Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? 

Ø  Sebelum mempelajari modul ini saya pernah mengambil  keputusan dengan situasi dilema etika. Namun tidak mengikuti 9 langkah pengambilan keputusan. Keputusan yang saya ambil biasanya hanya dari dua hal yang pertama sesuai dengan regulasi dan tidak merugikan orang lain. Tidak melalukan uji benar vs benar. Dalam modul ini saya belajar Langkah-langkah pengambilan keputusan dengan tepat dan akurat karena ada 5 uji benar vs benar.

13.Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? 

Ø  Sebelumnya izinkan saya bersyukur atas apa yang sudah saya temui pada modul 3.1 ini. Banyak ilmu yang saya terima dan insyaalloh akan sangat bermanfaat untuk hari ini dan masa yang akan datang. Konsep yang saya pelajari memberikan dampak luar biasa bagi pola pikir saya. Sebelum bertemu dengan modul ini saya berpikir bahwa pengambilan keputusan hanya berdasarkan regulasi saja. Ternyata banyak hal yang menjadi dasar, ada 4 paradigma dilemma etika yaitu: individu lawan kelompok (individual vs community), rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy), kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty), jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Serta konsep pengambilan dan pengujian keputusan, sehingga saya lebih yakin dengan apa yang sudah saya tetapkan sebagai satu keputusan. Saya berencana akan mengimplementasikan dalam setiap pengambilan keputusan baik sebagai pemimpin pembelajaran maupun dalam ikut serta pengambilan kebijakan di sekolah dan komunitas praktisi yang saya ikuti.  Saya berharap pengambilan keputusan yang saya lakukan akan selalu berpihak pada murid.

14.Seberapa penting mempelajari topik modul 3.1 PGP  bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? 

Bagi saya materi pada modul 3.1 sangat penting dan bermakna. Di lingkungan sekolah guru sebagai pemimpin pembelajaran dan sebagai warga sekolah banyak keputusan yang akan dikeluarkan menghasilkan kebijakan -kebijakan yang akan mewarnai perjalanan sekolah untuk mewujudkan merdeka belajar dan profil pelajar Pancasila. Guru harus memiliki keterampilan pengambilan keputusan untuk dapat mewujudkan itu semua. Keputusan yang bernilai kebajikan dan mampu mengimplementasikan 9 langkah pengambilan keputusan, sesuai 4 paradigma  3 prinsip penyelesaian dilemma  serta  tiga uji yang sejalan dengan prinsip pengambilan keputusan yaitu: Uji Intuisi berhubungan dengan berpikir berbasis peraturan (Rule-Based Thinking), Uji publikasi, sebaliknya, berhubungan dengan berpikir berbasis hasil akhir (Ends-Based Thinking) yang mementingkan hasil akhir dan Uji Panutan/Idola berhubungan dengan prinsip berpikir berbasis rasa peduli (Care-Based Thinking), dimana ini berhubungan dengan golden rule. Demikian koneksi antar materi yang saya paparkan, saya menyadari masih sedikit ilmu yang saya peroleh untuk itu mohon masukan dan informasi mendalam untuk perbaikan. Saya berharap selalu dapat memperbaiki proses menjadi lebih baik, karena saya yakin proses tidak akan menghianati hasil. Guru tergerak, bergerak dan menggerakan. Guru bergerak Indonesia maju.

Rabu, 29 Maret 2023

Coaching dalam Supervisi Akademik

(Pembelajaran Berdiferensiasi, Pembelajaran Sosial Emosional dan Peran Guru sebagai Pemimpin Pembelajaran)

Oleh: Welly Julita, M.TPd




A.   KESIMPULAN

Ø  Pembelajaran Coaching untuk Supervisi Akademik

Seorang guru penggerak harus mampu menjalankan perannya. Peran yang dimaksud adalah: 1) Menjadi Pemimpin Pembelajaran, 2) Menjadi Coach Bagi Guru Lain, 3) Mendorong kolaborasi, 4) Mewujudkan Kepemimpinan Murid (Student Agency), 5) Menggerakkan Komunitas Praktisi. Lima peran guru penggerak yang sejalan dan selaras dengan modul 2.3 Coaching untuk supervisi akademik adalah peran yang ke-2 yaitu menjadi coach bagi guru lain.

Supervisi akademik di sekolah sering diasumsikan sebagai suatu kegiatan observasi  atau penilaian terhadap kinerja guru. Sehingga kata supervisi identik menjadi sebuah kegiatan kekurangan guru dan guru merasa terbebani ketika guru tersebut disupervisi.

Coaching didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coach memfasilitasi peningkatan atas performa kerja, pengalaman hidup, pembelajaran diri, dan pertumbuhan pribadi dari coachee (Grant, 1999). Sedangkan Whitmore (2003) mendefinisikan coaching sebagai kunci pembuka potensi seseorang untuk untuk memaksimalkan kinerjanya.  Sejalan dengan pendapat para ahli tersebut, International Coach Federation (ICF) mendefinisikan coaching sebagai “…bentuk kemitraan bersama klien (coachee) untuk memaksimalkan potensi pribadi dan profesional yang dimilikinya melalui proses yang menstimulasi dan mengeksplorasi pemikiran dan proses kreatif.”

Beberapa defisini mengenai coaching di atas dapat saya simpulkan bahwa coaching merupakan sebuah kegiatan untuk mencapai kondisi kemajuan, coaching meningkatkan kompetensi personal dan profesional, coaching bukan kegiatan memberi tahu, melainkan kegiatan menanya (asking) untuk membangkitkan motivasi (belum mau menjadi mau, belum sadar menjadi sadar). Seorang coach dalam kegiatan coaching menggali dan memotivasi solusi dari masalah yang dialami coachee. Kegiatan coaching diharapkan coachee menemukan solusi dari masalah yang dialami dengan kembali sadar dan tanpa ajakan maupun paksaan dari seorang coach (mandiri).

Ø  Paradigma, Prinsip, Kompetensi Inti Coaching

Agar menjadi seorang coach yang baik seorang guru harus menerapkan dan memiliki pemikiran dalam beberapa hal, diantaranya adalah paradigma berfikir coaching dan prinsip coaching.

Ø  Paradigma berfikir coaching;

  1. Fokus pada coachee/rekan yang akan dikembangkan,
  2. Bersikap terbuka dan ingin tahu,
  3. Memiliki kesadaran diri yang kuat,
  4. Mampu melihat peluang baru dan masa depan

Ø  Prinsip coaching

  1. Kemitraan
  2. Proses kreatif
  3. Memaksimalkan potensi

Selain kedua hal diatas yang perlu dimiliki dan diterapkan, untuk dapat melakukan proses coaching dengan baik seorang guru harus memiliki 3 kompetensi inti coaching yang ada yaitu:

  1. Kehadiran Penuh/Presence

Kehadiran penuh/presence adalah kemampuan untuk bisa hadir utuh bagi coachee (coaching presence) sehingga badan, pikiran, hati selaras saat sedang melakukan percakapan coaching.  Kehadiran penuh ini adalah bagian dari kesadaran diri yang akan membantu munculnya paradigma berpikir dan kompetensi lain saat kita melakukan percakapan coaching.

  1. Mendengarkan Aktif

Salah satu keterampilan utama dalam coaching adalah keterampilan mendengarkan dengan aktif atau sering kita sebut dengan menyimak.  Seorang coach yang baik akan mendengarkan lebih banyak dan lebih sedikit berbicara.  Dalam percakapan coaching, fokus dan pusat komunikasi adalah pada diri coachee, yakni mitra bicara.  Dalam hal ini, seorang coach harus dapat mengesampingkan agenda pribadi atau apa yang ada di pikirannya termasuk penilaian terhadap coachee.

3.    Mengajukan Pertanyaan Berbobot

Dalam melakukan percakapan coaching ketrampilan kunci lainnya adalah mengajukan pertanyaan dengan tujuan tertentu atau pertanyaan berbobot.  Pertanyaan yang diajukan seorang coach diharapkan menggugah orang untuk berpikir dan dapat menstimulasi pemikiran coachee, memunculkan hal-hal yang mungkin belum terpikirkan sebelumnya, mengungkapkan emosi atau nilai dalam diri dan yang dapat mendorong coachee untuk membuat sebuah aksi bagi pengembangan diri dan kompetensi. Pertanyaan berbobot kepada coachee adalah merupakan hasil dari mendengarkan aktif yaitu R-A-S-A. RASA merupakan akronim dari ReceiveAppreciateSummarize, dan Ask.

Ø  Alur Percakapan T-I-R-T-A

TIRTA dikembangkan dari satu model umum coaching yang dikenal sangat luas dan telah banyak diaplikasikan, yaitu GROW model. 

TIRTA dapat dijelaskan sebagai berikut:

1.     Tujuan Umum (Tahap awal dimana kedua pihak coach dan coachee menyepakati tujuan pembicaraan yang akan berlangsung. Idealnya tujuan ini datang dari coachee)

2.    Identifikasi (Coach melakukan penggalian dan pemetaan situasi yang sedang dibicarakan, dan menghubungkan dengan fakta-fakta yang ada pada saat sesi)

3.    Rencana Aksi (Pengembangan ide atau alternatif solusi untuk rencana yang akan dibuat)

4.    TAnggungjawab (Membuat komitmen atas hasil yang dicapai dan untuk langkah selanjutnya).

Ø  Keterkaitan Coaching dengan Pembelajaran Berdiferensiasi Dan Pembelajaran Soial Emosional

Setelah mempelajari modul ini, saya menjadi semakin tercerahkan dan termotivasi untuk menerapkan prinsip coaching dalam membantu rekan sejawat untuk menemukan solusi atas permasalahan yang dihadapi. Saya meyakini bahwa dengan menerapkan paradigma berfikir coaching  dalam penyelesaian masalah yang dihadapi rekan sejawat, mereka akan lebih terbuka, tidak merasa malu menguraikan permasalahan yang dihadapi dan merefleksi diri.

Selanjutnya adalah keterkaitan coaching dengan pembelajaran pada modul sebelumnya.

  1. Keterkaitan coaching degan pembelajaran berdiferensiasi

Pembelajaran berdiferensiasi adalah serangkaian keputusan masuk akal (common sense) yang dibuat oleh guru yang berorientasi kepada kebutuhan murid. Sesuai dengan definisi pembelajaran berdiferensiasi tersebut dapat diasumsikan bahwa paradigma coaching dan prinsip coaching dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan pembelajaran. Selain itu dengan menerapkan coaching sebagai sebuah pendekatan pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid adalah suatu hal yang dapat dilakukan dan efektif untuk mencapai hasil yang diinginkan.

Untuk menyusun dan melaksanakan proses pembelajaran, guru akan mengarahkan murid untuk menemukan, menentukan/memilih kebutuhan belajarnya. Murid dimampukan untuk dapat belajar sesuai dengan gaya belajar, kemampuan belajar, bakat dan minat yang dimiliki. Dengan demikian pembelajaran dapat berjalan baik dan murid merasa nyaman dengan proses belajar yang mereka lakukan.


  1. Keterkaitan coaching dengan pembelajaran sosial emosional

Pembelajaran Sosial dan Emosional (PSE) adalah pembelajaran yang dilakukan secara kolaboratif oleh seluruh komunitas sekolah. Proses kolaborasi ini memungkinkan anak dan orang dewasa di sekolah memperoleh dan menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap positif mengenai aspek sosial dan emosional agar dapat:

A.   Memahami, menghayati, dan mengelola emosi  (kesadaran diri)

B.    Menetapkan dan mencapai tujuan positif (pengelolaan diri)

C.    Merasakan dan menunjukkan empati kepada orang lain (kesadaran sosial)

D.   Membangun dan mempertahankan hubungan yang positif (keterampilan berelasi)

E.    Membuat keputusan yang bertanggung jawab. (pengambilan keputusan yang bertanggung jawab)

Lima kompetensi sosial emosional yang dipelajari pada modul sebelumnya menjadi sebuah dasar seorang guru agar dapat menguasai tiga kompetensi coaching yang ada. Sehingga pembelajaran sosial emosional sangat penting dan perlu ditempuh seorang guru untuk meningkatkan kompetensi sosial emosionalnya sebelum belajar mengenai coaching.

Selain itu, dalam pembelajaran sosial emosional seorang guru akan memperoleh pengalaman mengenai mengelola diri yang baik hingga mampu mengambil keputusan. Salah satu teknik untuk mengembalikan kesadaran penuh atau (mindfulness) dapat dilakukan dengan teknik S-T-O-P yang dapat diterapkan kepada coachee sebelum melakukan kegiatan coaching. Dengan demikian coaching akan terjadi baik dan memampukan coachee dalam menemukan solusi masalah yang dialami.

  1. Keterkaitan Keterampilan Coaching dengan Pengembangan Kompetensi Sebagai Pemimpin Pembelajaran

Pemimpin pembelajaran yang baik menurut saya adalah seorang yang memiliki prinsip dan mampu menerapkan paradigma coaching untuk supervisi akademik. Paradigma coacing dan prinsip coaching untuk supervisi akademik sangat perlu dimiliki oleh seorang pemimipin pembelajaran untuk dapat melakukan evaluasi dan refleksi pembelajaran sebagai bahan perbaikan kedepan. Selain itu, kemampuan coaching seorang pemimpin pembelajaran harus selalu ditingkatkan dan diasah guna supervisi akademik yang dilakukan.

Melakukan supervisi akademik dengan teknik coaching akan lebih efektif dibandingkan dengan teknik lain. Karena dalam coaching seorang coachee mampu menemukan potensi positif dalam diri maupun potensi lain disekeliling sebagai solusi atas masalah yang dihadapi. Suatu hal yang muncul atas inisitif atau hasil pemikiran reflektif seseorang biasanya lebih bertahan lama atau berjangka panjang dan memberikan kesan makna yang mendalam ketika berhasil diterapkan.

B.   REFLEKSI

  1. Peran saya sebagai seorang coach di sekolah dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya di paket modul 2 yaitu pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi adalah:

Di sekolah, saya memainkan banyak peran. Utamanya sebagai seorang guru mata pelajaran kimia. Oleh kepala sekolah, saya diberi amanah sebagai Wakil kepala sekolah bidang kepeserta didikan sekaligus Pembina Osis. Saya juga diberi tanggung jawab sebagai Kepala Laboratorium Kimia dan Nanoteknologi. Semua tugas dan peran tersebut, saya jalani dengan senang hati dan semampu yang saya bisa lakukan. Peran tersebut akan bertambah jika sekolah mengadakan kegiatan tahunan sekolah seperti PPDB, Penerimaan Peserta Didik Baru, Matrikulasi, Ujian sekolah, Ulang tahun sekolah dan Wisuda/Pelepasan Peserta Didik Kelas XII. Biasanya saya ditunjuk sebagai ketua panitia atau Koordinator Tim.

Apakah dalam menjalankan tugas, peran dan fungsi saya sebagai seorang guru dan dengan banyak tugas tambahan saya tidak mengalami hambatan dan kesulitan??.

Dalam keseharian menjalankan tugas dan peran tersebut. Tentu tidak semua berjalan lancar. Banyak kendala dan hambatan yang ditemui. Baik di dalam kelas maupun di lingkungan sekolah. Dengan peserta didik ataupun dengan rekan sejawat.

Kendala dan hambatan yang ditemukan, bersama tim berusaha dicari jalan keluarnya. Karena tidak menampik juga bahwa, antar peserta didik, antara guru dan peserta didik serta antar rekan sejawat pernah berselisih paham. Kondisi berselisih paham tersebut tentu tidak berlangsung lama. Karena semua menyadari kekeliruan, dan menyadari bahwa apa yang dilakukan demi kemajuan sekolah.

Sebut saja dalam pembelajaran di kelas. Saat jam belajar, saya mendapati peserta didik  melakukan aksi diam 1 kelas. Ditanya diam, disuruh bertanya, disuruh maju kedepan kelas, tetap diam. Saya jadi bertanya mengapa semua diam?.

Kondisi seperti ini pernah terjadi di kelas berbeda. Jika sebelumnya saya bereaksi dengan keterdiaman peserta didik dengan memberi mereka pemanasan diri, lari keliling koridor sekolah, hormat tiang bendera, memberi mereka pencerahan dan berakhir dengan refleksi diri saya dan peserta didik di kelas. Maka setelah mendapat pembelajaran CGP modul 2, saya merasa perlu merubah pola itu. Menerapkan Budaya positif, membuat kesepakatan dan keyakinan kelas, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi dan menerapkan pembelajaran sosial emosional. Tidak hanya diterapkan di kelas saat terjadi “gangguan” belajar tetapi juga saya coba terapkan di Laboratorium, dengan rekan sejawat, rekan 1 tim dan di lingkungan sekolah. Dan itu yang sekarang telah dan sedang saya lakukan.

Kembali ke temuan di kelas. Peserta didik melakukan “aksi diam” ketika sebagian besar dari mereka belum siap latihan KD dari jadwal yang sudah dijanjikan. Sebagai seorang pendidik tentu saya tidak akan membiarkan ini terjadi, berlangsung lama dan ber ulang. Maka saya melakukan pendekatan pembelajaran dengan berkolaborasi dan bermitra dengan rekan sejawat dan peserta didik, dalam berbagai cara demi dapat mengatasi hambatan dalam belajar di kelas dan saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi, yakni:

1.     Melakukan proses coaching. Di awali dengan rekan sejawat ( baik rekan guru mapel lain, dengan wali kelasnya, dengan SAnya dan dengan pengasuh asramanya). Dimana saya bertindak sebagai coachee. Orang yang perlu dibantu untuk mencapai kondisi maju dalam pemelajaran di kelasnya. Sekaligus melatih diri sesbelum saya melakukan peran berbeda sebagai seorang seorang coach bagi peserta didik saya di kelas.

2.    Merefleksi diri dengan pendekatan Sosial Emosional, dengan Teknik STOP dan Mindfullness. Saya memposisikan diri saya adalah seorang guru yang sadar diri akan kekeliruannya, berusaha memperbaiki diri, belajar menerima kritik dan masukan dari peserta didik maupun rekan sejawat dari hasil proses coaching yang dilakukan dengan rekan sejawat sebelumnya (Kesadaran social dan kemampuan berelaksi). Hingga akhirnya saya dapat mengambil sebuah kesimpulan yang bertanggung jawab. Tentang apa yang harus saya dan peserta didik lakukan agar dapat memperbaiki permasalahan dalam belajar tersebut.

3.    Melakukan aksi nyata bersama peserta didik di kelas saya dengan menerapkan pendekatan:

a)    Pembelajaran Sosial Emosional dengan Teknik STOP dan  Mindfullness agar peserta didik juga memiliki pengendalian diri, kesadaran diri, kesadaran sosial, kemampuan berelasi dengan teman, terlebih guru. Bahwa segala sesuatu harus didiskusikan dengan baik. Untuk mencari jalan keluar dari permasalahan. Bukan dengan aksi diam se kelas, hingga peserta didik dapat mengambil sebuah keputusan yang bertanggung jawab terhadap tindakannya, sekaligus menanyakan kembali keyakinan kelas yang sudah disepakati bersama. Saya juga melakukan Refleksi diri peserta didik dengan pendekatan menulis pesan kesan 3 baris setelah pembelajaran dilakukan. Untuk menggali dan mengetahui, peserta didik yang perlu didorong untuk maju, peserta didik yang butuh di konseling, dan peserta didik yang perlu dimotivasi). Dan dari penerapan pembelajaran sosial emosional, mindfullnes dan refleksi diri ini dilakukan oleh peserta didik di kelas, saya dapat mengetahui bahwa alasan “aksi diam” yang peserta didik lakukan adalah karena mereka tidak belajar, tidak mempersiapkan diri untuk latihan KD pada hari yang telah disepakati bersama pada pertemuan sebelumnya.

b)   Melakukan proses coaching, terutama pada peserta didik yang menginginkan kemajuan dalam belajarnya, keluar dari zona nyamannya. Nah peran saya di sini sebagai Coach yang bertindak sebagai mitra peserta didik. Pendekatan yang saya lakukan dengan alur TIRTA dan pertanyaan berbobot dengan RASA.

c)    Menerapkan pembelajaran berdiferensiasi di kelas, demi memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam. Bahwa peserta didik bisa belajar sesuai minat, gaya belajar dan kebutuhan belajarnya.

Bagaimana persaan saya saat melakukan aksi nyata saya, baik di lingkungan sekolah maupun di kelas??

Jawabannya, Nano-nano, Banyak rasa. Pada rekan sejawat, terutama saat saya memposisikan diri sebagai coachee, ada rekan sejawat yang justru senang saya bercerita, dia cerita balik tentang dirinya dan masalahnya di kelas, ada juga yang memberikan informasi terkait kemajuan dan etika peserta didik di sekolah dan asrama. Rasa haru dan senang saya dapatkan setelah membaca pesan kesan 3 baris setelah pendekatan SE dan refleksi diri peserta didik terhadap pembelalajaran saya baca. Beberapa peserta didik, menunjukkan ketertarikannya dengan materi, metode dan cara penyampaian saya dalam mengajar, mereka jadi termotivasi untuk giat belajar, dan menyadari kekurangan diri, mau berubah. Namun sedih dan tersentil juga saat peserta didik memberi penilaian bahwa cara mengajar saya yang cepat, soalnya banyak dan dikerjakan dengan waktu yang singkat. Diakhir refleksi saya ucapkan rasa terimakasih karena sudah bersedia menilai saya. Saya juga sampaikan bahwa mereka harus mengejar gurunya dalam belajar, bila perlu melebihi pengetahuan gurunya dan sekali waktu bertindak sebagai guru menggantikan saya. Dan soal waktu serta jumlah butir soal dan dikerjakan dalam waktu yang terbatas, agar mereka siap kompetisi. Bahwa, tes masuk perguruan tinggi, saat mengikuti lomba ketangkasan, waktunya lebih singkat lagi dari waktu yang saya sediakan. Tapi di balik itu semua, tetap saya perhatikan masukan dan kemauan belajar peserta didik. Saya cari jalan tengahnya.

Proses coaching, dimana saya bertindak sebagai Coach, pendekatan Sosial emosional, dan pembelajaran berdiferensiasi ini, selain dalam pembelajaran di kelas, juga saya coba terapkan di lingkungan sekolah dalam melakukan peran dan tugas saya sebagai wakil kepala sekolah bidang kepeserta didikan dan Pembina osis.

Sebagai seorang coach di sekolah, peran saya adalah membantu guru dan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran mereka. Saya dapat membantu guru dalam mengembangkan strategi pembelajaran yang berfokus pada pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi.

Dalam pembelajaran berdiferensiasi, saya dapat membantu guru dalam mengidentifikasi kebutuhan belajar individu peserta didik dan memberikan dukungan untuk mengembangkan rencana pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan tersebut. Saya dapat membantu guru dalam merancang aktivitas dan tugas yang memungkinkan peserta didik dengan berbagai tingkat kemampuan untuk belajar dan berkembang.

Sedangkan dalam pembelajaran sosial dan emosi, saya dapat membantu guru dalam mengembangkan strategi yang mempromosikan keterlibatan sosial dan emosi peserta didik dalam proses pembelajaran. Saya dapat membantu guru dalam mengembangkan keterampilan sosial dan emosi peserta didik, seperti kemampuan untuk bekerja sama, berkomunikasi dengan baik, mengelola emosi, dan memecahkan masalah secara efektif.

Sebagai coach, saya dapat membantu guru dalam mengintegrasikan pembelajaran berdiferensiasi dan pembelajaran sosial dan emosi ke dalam kurikulum dan kegiatan kelas. Saya juga dapat membantu guru dalam mengevaluasi efektivitas strategi pembelajaran mereka dan memberikan umpan balik yang berguna untuk meningkatkan praktik pembelajaran mereka.

 

    1. Keterkaitan keterampilan coaching dengan pengembangan kompetensi sebagai pemimpin  pembelajaran

Pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan memerlukan peran aktif dari berbagai pihak, termasuk guru, peserta didik, dan pemimpin pembelajaran.  Sebagai pemimpin pembelajaran, harus mampu mengelola dan mengarahkan proses pembelajaran yang efektif dan membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran mereka. Mampu menjadi supervisor bagi rekan sejawatnya yankni menjadi coach bagi guru lain.