Rabu, 01 Maret 2023

 

Implementasi Pembelajaran  Sosial dan Emosional (KSE)untuk Murid dan PTK

Disusun Oleh: Welly Julita

CGP Angkatan 7 – Kaur Bengkulu

https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/79740

1.      Implementasi Pembelajaran  Sosial dan Emosional (KSE) untuk Murid

 

A.      Jenis KSE : Kesadaran Diri, fokus pada: Disiplin terhadap waktu

Bentuk Implementasi

Skenario Penerapan

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran (Guru ...)

Deskripsi Tambahan

Melakukan

Mengatakan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Pengajaran Ekplisit

Ø  Menghargai waktu

Ø  Waktu tidak akan kembali

Ø  Jangan pernah menyia-nyiakan waktu

Ø Kepala Sekolah

 

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

 

Ø Murid

Ø Saat terjadi indisiplin terhadap waktu

 

Ø 2 s.d. 5 menit

Ø Di ruang belajar/labor

Ø Sekolah

Ø Murid dan atau guru/ PTK yang indisiplin dan disiplin

Ø Foto /video negara dengan kedisiplinan tinggi

Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

 

Ø  Mengikuti jadwal KBM yang telah dibuat

Ø  Datang dan keluar kelas tepat waktu

Ø  Membuat kesepakatan kelas bersama murid

Ø  Jika 5 menit saja kita terlambat masuk kelas atau keluar kelas maka, pembelajaran akan terganggu.

Ø  Hal yang sam juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari: jadwal penerbangan/kereta, rapat dan lain-lainnya yang tidak sesuai jadwal maka akan berefek pada kerugian.

 

 

 

 

 

Penciptaan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

 

Ø  Menghargai waktu (dalam pembelajaran maupun kegiatan sekolah lainnya)

Ø  Salah satu kunci kesuksesan adalah disiplin terhadap waktu

 

 

 

B.    Jenis KSE : Manajemen Diri, tentang Mengelola emosi, pengendalian diri dan menghargai

Bentuk Implementasi

Skenario Penerapan

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran (Guru ...)

Deskripsi Tambahan

Melakukan

Mengatakan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Ø Pengajaran Ekplisit

Ø Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

Ø Penciptaan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

 

Ø  Peran sebagai manajer dan sebagai teman

 

Ø  Peran sebagai model/teladan

 

Ø  \memberi reward/ konsekuensi)

Ø  Laa tahdob (Jangan marah) maka balasannya adalah surga

Ø  Jika kita ingin dihargai maka hargai diri kita dan orang lain

Ø  Belajar itu tidak hanya di bangku sekolah tetapi juga dalam pertemanan dan kejadian dalam hidup

 

Ø Kepala Sekolah

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

Ø Murid

Ø Saat pembelajaran

Ø Saat diskusi/musyawarah

Ø bekerjasama dalam tim

Ø Pengambilan keputusan

 

Ø 5 s.d. 30 menit

Ø Sekolah

Ø Ruang belajar

Ø Asrama/kamar

Ø Masyarakat

Ø sabar

Ø ikhlas

Ø syukur

Ø penghargaan/reward

Ø murottal

Ø lagu-lagu menenangkan

 

 

 

 

 

 

 

 

C.   Jenis KSE : Kesadaran sosial, tentang Kebersihan, Peduli, Gotong royong

Bentuk Implementasi

Skenario Penerapan

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran (Guru ...)

Deskripsi Tambahan

Melakukan

Mengatakan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Ø Pengajaran Ekplisit

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ø Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

 

 

 

Ø Penciptaan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

 

Ø  Kebersihan: Mencontohkan (memungut sampah, membuang sampah pada tempatnya)

 

Ø  Peduli:

Berempati,

Silaturahim dengan murid, PTK dan daerah yang mengalami musibah)

Ø  Gotong royong menjaga kebersihan kelas dan sekolah Penggiat program:

Jum at bersih

Pentagon peduli

Ø  Menginstruksikan pengurus kelas untuk membuat jadwal piket dan

 

Ø  Jagalah kebersihan

Ø  Kebersihan sebagian dari iman

Ø  Kebersihan pangkal kesehatan

Ø  Jika diri kita, lingkungan kita bersih, rapih dan wangi. Siapa yang paling  menikmatinya kalau bukan kita maka jagalah kebersihan diri, kelas dan lingkungan sekitar kita!

Ø  Buang sampah pada tempatnya

Ø  Sekecil apapun yang kita beri, akan sangat berharga bagi saudara/i kita yang membutuhkan

Ø  Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah

Ø  Pekerjaan jika dilakukan bersama-sama akan terasa ringan dan mudah

Ø Kepala Sekolah

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

Ø Murid

Ø Masyarakat

Ø Dinas terkait/ LH

Ø Donatur

Ø Saat mendapati kelas/ papan tulis/lantai, danlain-lain kotor,

 

Ø Got, taman dan lingkungan sekolah terdapat sampah di mana-mana

 

Ø Terjadi musibah/bencana alam

 

Ø 10 menit s.d. 1 jam lebih

Ø Taman dan lingkungan sekolah

Ø Ruang belajar

Ø Asrama/kamar

Ø Lokasi bencana

Ø Peralatan kebersihan (penghapus, sapu, sekop, kain pel, cangkul, lorry, parang)

Ø Kotak amal

Ø Jenis bantuan (uang, pakaian layak pakai, sembako, peralatan rumah tangga)

Ø Kendaraan penganggut

Ø Petugas medis

Ø Relawan/ psikiater dan kerohanian

D. Jenis KSE : Keterampilan berelasi, tentang Menjaga hubungan baik, Pertemanan dan persaudaraan, Membangun relasi

Bentuk Implementasi

Skenario Penerapan

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran (Guru ...)

Deskripsi Tambahan

Melakukan

Mengatakan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Ø Pengajaran Ekplisit

 

 

 

 

Ø Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

 

 

 

Ø Penciptaan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

 

Ø  Mencontohkan (memanggil rekan sejawat, murid dengan panggilan kesayangannya, berteman, tegur sapa, salam, sopan, santun)

Ø  Menitipkan salam/ sesuatu untuk keluarga rekan atau murid

Ø  Mendoakan

Ø  Penggiat program osis atau ekskul:

Melakukan komunikasi yang baik dengan stake holder dan pemangku kepentingan saat malakukan program osis/sekolah

 

Ø  Kemarin do lihat Ocik di pasar, beli apa?

Ø  Mohon maaf Bapak, tolong potokopikan ini rangkap 2. Terimakasih.

Ø  Gimana kabar Ibu, sehat?

Ø  Saya menyayangimu karena Allah. Ana Uhibbuka fillah

Ø  Misal, Surat undangan tidak hanya di antarkan ke yang bersangkutan tetapi juga ditanya kesediaannya memenuhi undangan,

Ø  Meminta bantuan dan membantu saudara

Ø Kepala Sekolah

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

Ø Murid

Ø Orang tua

Ø Masyarakat

Ø Dinas/badan/kantor

Ø Pejabat/orang yang diperhitungkan

Ø Setiap saat

Ø Setiap even kegiatan

 

 

Ø 1 menit s.d. sepanjang masa

Ø Sekolah

Ø Di rumah

Ø Di masyarakat

Ø Dinas/badan/kantor

 

Ø Ucapan

Ø Rangkulan

Ø Senyuman

Ø Jabat tangan

Ø Sapaan

Ø Komunikasi yang baik

Ø Kunjungan

Ø Bingkisan/hadiah

Ø Doa

 

 

E.   Jenis KSE : Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, tentang Tanggung jawab, melaksanakan tugas, fungsi dan peran

Bentuk Implementasi

Skenario Penerapan

Deskripsi Kegiatan Pembelajaran (Guru ...)

Deskripsi Tambahan

Melakukan

Mengatakan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Ø Pengajaran Ekplisit

 

 

Ø Integrasi Praktek Mengajar Guru dan Kurikulum Akademik

 

Ø Penciptaan Iklim Kelas dan Budaya Sekolah

 

Ø  Memberikan tugas dan tanggung jawab dalam mengelola kelas

Ø  Pembelajaran kooperatif (dengan metode PBL, PJBL, Eksperimen, Fliped Learning dan lainnya)

Ø  Membina osis /ekskul (dalam Menyusun program, membuat kepanitiaan, membagi jobdesk, melaksanakan program dan pelaporan)

Ø  Mengerjakan dan mengumpulkan tugas tepat waktu adalah salah sau bentuk positif dari belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri, tugas yang diemban dan orang lain

Ø  Setiap keputusan yang diambil harus dapat dipertangungjawabkan

Ø  Silang pendapat itu biasa dalam musyawarah untuk mencapai mufakat, tetapi bagaimana kita bisa belajar dewasa dan bertanggung jawab, menerima segala perbedaan menjadi sebuah kekuatan besar mensukseskan program

Ø Kepala Sekolah

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

Ø Murid/teman sebaya

Ø Orang tua

Ø Masyarakat

Ø Lembaga

Ø Pemangku kepentingan

Ø Setiap saat

Ø Setiap even kegiatan

 

 

Ø 1 menit s.d. sepanjang masa

Ø Sekolah

Ø Kelas/ruang belajar/laboratorium

Ø Aula/mmasjid

Ø Di rumah

Ø Di masyarakat

 

Ø Musyawarah

Ø Diskusi kelompok

Ø Kerja kelompok

Ø Tugas/Projek mapel/kelas/sekolah

 

 

 

 

2.  Penguatan Kompetensi Sosial dan Emosional untuk Rekan Pendidik dan

         Tenaga Kependidikan (PTK)  di Sekolah Jenjang SMA

 

Bentuk Penguatan

Skenario Penerapan

Hal yang dikembangkan

Deskripsi Tambahan

KSE

Deskripsi Kegiatan

Orang yang terlibat

Waktu Pelaksanaan

Durasi waktu

Tempat

Perlengkapan lain

Menjadi Teladan

Ø Manajemen diri

Ø  Disiplin waktu

Ø  Pengendalian diri (emosi dan sikap)

Ø  Berpakaian rapih dan sopan

Ø  Menjaga etika dan pergaulan

Ø  Meningkatkan ibadah

Ø  Menjaga hubungan baik dengan rekan PTK, murid, keluarga dan masyarakat

Ø Kepala Sekolah

 

Ø PTK (Guru dan Tenaga Kependidikan)

 

Ø Murid

 

Ø Pemangku kepentingan/ stakeholder

 

Ø Media massa (cetak/ elktronik/sosial)

 

Ø Setiap saat setiap waktu

Ø Setiap kegiatan

 

 

Ø Fleksibel

Ø Sepanjang hayat

Ø Kelas

Ø Sekolah

Ø Masyarakat

Ø Media sosial

Ø Lembaga

Ø Tempat umum

Ø Jam

Ø Pakaian

Ø Norma agama dan masyarakat

Ø Realasi/pertemanan

Ø Tupoksi

Ø Keterampilan berelasi/

publik speaking

Ø Kepercayaan

 

 

Belajar

Dan Berkolaborasi

Ø Kesadaran diri

 

Ø Kesadaran sosial

 

 

 

 

Ø Keterampilan berelasi

 

Ø Pengambilan keputusan yang bertanggung jawab

 

Ø  Sadar diri akan tupoksi dan peran (sebagai guru, rekan sejawat, teman, orang tua, anggota masyarakat)

Ø  Peduli sesama

Ø  Peka terhadap lingkungan  dan orang sekitar

Ø  Kerjasama tim

Ø  Kolaborasi  (ide, proyek)

Ø  Koordinasi (dg atasan, ketua –anggota tim, stakeholder, pemangku kepentingan)

Ø  Negosiasi (Narasumber, Sponsor, EO /Event Organizer)

Ø  Motivasi (Kepsek, koordinator/ anggota tim, narasumber)

Ø  Dokumentasi/ publikasi ( website sekolah, medsos sekolah (Fb, IG, TG, Youtube), mading, surat kabar, radio, televisi)

Ø  Evaluasi (per bidang, per kegiatan (sebelum dan setelah)

Dilakukan dalam kegiatan sekolah (Kerjasama PTK dan Osis atau lembaga. Misal dalam kegiatan osis, Expo, ulangtahun, wisuda, PHB Islam/Nasional, pameran kreativitas sekolah dan kegiatan lainnya).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 22 Desember 2022

      PERAN GURU DALAM MENERAPKAN BUDAYA POSITIF

OLEH             :     WELLY JULITA, M.TPd
INSTANSI      :    SMAN 10 KAUR (PENTAGON)

  1. Peran Saya sebagai seorang guru dalam menciptakan budaya positif di sekolah dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, motivasi perilaku manusia (hukuman dan penghargaan), posisi kontrol restitusi, keyakinan  sekolah/kelas, segitiga restitusi dan keterkaitannya dengan materi sebelumnya yaitu Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak adalah:

Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Penumbuhan budaya positif diawali dengan pembiasaan perilaku positif yang dibangun dalam waktu lama hingga mengakar dan menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya menjadi sebuah budaya positif. Budaya positif merupakan perubahan paradigma tentang teori kontrol.

Agar guru dapat berperan dalam menumbuhkembangkan budaya positif di sekolah, maka ada baiknya guru memahami kembali tentang konsep inti seperti disiplin positif, posisi kontrol, kebutuhan dasar manusia, segitiga restitusi, Filosofi Pendidikan Nasional Ki Hadjar Dewantara, Nilai dan Peran Guru Penggerak,  serta Visi Guru Penggerak. 

Berdasarkan beberapa penelitian tentang teori kontrol, semua perilaku manusia pasti memiliki tujuan. Begitupula dengan perilaku siswa. Bahkan sebuah kesalahan yang dilakukan siswa pasti memiliki alasan. Alasan tersebut biasa disebut dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia. Ada lima kebutuhan dasar manusia yaitu:

1.      Kebutuhan bertahan hidup (Survival) yaitu kebutuhan berkaitan dengan fisik seperti makan, tidur, tempat tinggal dan lain-lain

2.      Kebutuhan Cinta dan kasih sayang (Penerimaan)

3.      Kebutuhan Penguasaan (pengakuan akan kemampuan)

4.      Kebutuhan Kebebasan (Kebutuhan akan pilihan)

5.      Kebutuhan akan Kesenangan.

Ketika guru sudah mampu memahami kebutuhan dasar setiap siswa, langkah yang dilakukan adalah dengan menerapkan disiplin positif. Selama ini, disiplin dipahami sebagai tindakan untuk membuat siswa patuh pada aturan sekolah dan guru. Ternyata, menurut Diane Gossen dalam bukunya Restructuring School Discipline ada tiga alasan motivasi manusia dalam melakukan sesuatu, yaitu:

1.      untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman

2.      untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain

3.      untuk menjadi orang yang mereka inginkan sesuai dengan nilai-nilai yang diyakini.

Berdasarkan ketiga alasan tersebut, tindakan pendisiplinan dengan  melakukan hukuman atau memberi imbalan bisa disebut motivasi eksternal dan hal tersebut tidak akan bertahan lama. Hukuman dan imbalan memang membuat siswa menjadi patuh, tapi kepatuhan itu hanya sementara dan kedisiplinan yang diterapkan tidak mengubah karakter siswa menjadi lebih kuat. Hal ini pula yang menyebabkan bangsa kita kesulitan dalam membentuk karakter masyarakatnya, contoh kecil seperti budaya antri, menaati aturan lalulintas dan kebersihan lingkungan yang belum bisa menjadi karakter.

Berdasarkan teori motivasi tadi, penerapan disiplin di sekolah harus dilakukan dengan alasan yang ke-3. Siswa melakukan kebaikan sesuai dengan keyakinan kelas atau nilai-nilai yang sudah tertanam dalam dirinya atau motivasi internal. Motivasi internal jangka waktunya lebih lama namun justru membuat siswa makin kuat secara karakter. Hal tersebut sejalan dengan pemikiran Ki Hajar Dewantara yang mengungkapkan bahwa disiplin kepada siswa adalah disiplin diri, sebab hanya diri sendiri yang mampu mengontrol diri kita bukan orang lain. Jika seseorang belum dapat mengontrol dirinya, maka menurut Ki Hajar Dewantara, penerapan disipilin yang dilakukan orang lain tapi dalam situasi merdeka bukan keterpaksaan. Artinya, siswa sendirilah yang menginginkan dirinya menaati peraturan sesuai dengan keyakinan universal atau keyakinan sekolah dan kelas. Keinginan untuk melaksanakan keyakinan universal yang datang dari siswa atau kita sebut motivasi internal tersebut dapat diwujudkan dengan Restitusi.

Restistusi adalah upaya mendisiplinkan siswa tapi dengan cara siswa sendiri yang menyelesaikan masalahnya dan membuat mereka bertindak sesuai dengan keinginan ideal yang didasarkan pada keyakinan kelas.
Hal tersebut tentu akan berjalan dengan semestinya ketika guru menempatkan diri sesuai dengan posisi kontrol yang tepat. Posisi kontrol guru yang terbaik adalah posisi seorang manajer. Di dalam posisi ini, sikap guru ketika melihat siswa melakukan kesalahan:

ü  tidak langsung menghukum atau menasehati, tapi  diawali dengan sikap memahami tindakan siswa bahwa ketika siswa bersalah. Berbuat salah itu adalah hal lumrah dialami setiap orang, karena memang setiap manusia memiliki kesalahan (Menstabilkan Identias),

ü  guru mencoba memahami alasan atau kebutuhan dasar apa yang ingin dipenuhi siswa dengan perilakunya tersebut (Validasi Tindakan yang salah),

ü  selanjutnya, siswa diingatkan tentang keyakinan kelas dan dipancing dengan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya sikap mereka menurut keyakinan kelas dan jawabannya datang dari siswa sendiri. Kemudian baru ditanyakan solusi terbaik menurut siswa tersebut yang berdasarkan keyakinan tadi (Menanyakan Keyakinan).

Saat guru bertindak sebagai seorang manajer, tentu tidak bersikap emosional, tidak juga merasa bahwa guru yang paling benar dan siswa harus mengikuti aturan guru. Tetapi guru harus bersikap arif dan bijaksana, mengayomi, lebih kepada teman diskusi sekaligus guru yang mengajak siswa menyadari dan mengakui kesalahannya, kemudian menayakan keyakinan kelas dan menggiring siswa menemukan alternatif penyelesaian atas masalahnya dan membuat siswa lebih percaya diri karenanya.

Jika siswa bersalah sebenarnya gampang saja menyuruh mereka meminta maaf kemudian menjalankan hukuman yang kita berikan, siswa pun menuruti kemauan guru. Dengan seperti itu seolah masalah selesai. Akan tetapi, sesuai dengan filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan adalah tempat menyemai benih kebudayaan. Kebudayaan dibentuk dari kebiasaan dan menjadi karakter. Diharapkan dampaknya lama, jangka panjang. Pendidikan sejatinya mampu menumbuhkan manusia-manusia terbaik yang berpegang pada nilai-nilai keyakinan yang memiliki kemerdekaan jiwa, bukan hanya membentuk generasi yang patuh karena tekanan dan aturan tapi jika menghendaki siswa patuh pun karena mereka mematuhi keyakinan dan nilai-nilai yang mereka pegang sendiri bukan aturan yang guru atau sekolah paksakan.
Oleh karena itu, restitusi adalah sebuah upaya untuk membuat siswa mampu mengevaluasi diri mereka sendiri agar menjadi manusia yang baik sesuai dengan nilai-nilai kebajikan universal dan sebuah upaya agar setiap kesalahan yang dilakukannya menjadi bahan pembelajaran agar dirinya menjadi lebih baik, menjadi lebih kuat karakternya dan penghargaan pada diri mereka sendiri pun menjadi bertambah.
Dengan penjelasan di atas, diharapkan budaya positif  di sekolah dapat terlaksana dan sekolah sebagai tempat menyemai benih kebudayaan atau pembentukan karakter dapat terwujud.

  1. Buatlah sebuah refleksi dari pemahaman Anda atas keseluruhan materi Modul Budaya Positif ini dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

1.4.a.6.1 Refleksi - Budaya Positif

v  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

v  Budaya positif adalah perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diterapkan di sekolah. Penumbuhan budaya positif diawali dengan pembiasaan perilaku positif yang dibangun dalam waktu lama hingga mengakar dan menjadi sebuah kebiasaan dan akhirnya menjadi sebuah budaya positif.

v  Teori Motivasi, tindakan pendisiplinan dengan  melakukan hukuman atau memberi imbalan bisa disebut motivasi eksternal dan hal tersebut tidak akan bertahan lama. Hukuman dan imbalan memang membuat siswa menjadi patuh, tapi kepatuhan itu hanya sementara dan kedisiplinan yang diterapkan tidak mengubah karakter siswa menjadi lebih kuat.

v  Posisi kontrol adalah salah satu trategi untuk mendisiplinkan murid dengan terlebih dahulu mengubah paradigma dan kerangka acuan seperti bagaimana melihat dunia, berpikir tentang manusia, dan aspek-aspek tetentu berdasarkan realistis, baru kemudian guru bisa melakukan control terhadap murid.

v  Kebutuhan dasar manusia seperti kebutuhan bertahan hidup, cinta dan kasih sayang, penguasaan, kebebasan, dan kesenangan.

v  Keyakinan kelas adalah bukan serangkaian peraturan tetapi lebih kepada keyakinan pada pernyataan yang diyakini kalau dilaksanakan akan lebih memotivasi secara intrinsik dan bernilai positif.

v  Segitiga restitusi adalah disiplin positif yang penekanannya agar lebih menghargai nilai-nilai kebijakan dan memperbaiki kesalahan apabila murid melakukan kesalahan agar mereka kembali kepada kelompoknya dengan karakter dan perilaku yang lebih baik.

Ada banyak hal menarik dan di luar dugaan terjadi ketika mempelajari dan menerapkan budaya positif baik di kelas maupun di lingkungan sekolah. Kesemuanya adalah pengalaman menarik, sayang untuk dilewatkan.

  1. Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Memandang dan memperlakukan siswa lebih bijak, lebih arif dalam bertindak dan lebih sabar menghadapi karakter siswa yang beragam. Bahwa setiap siswa itu pernah berbuat salah dan setiap siswa juga berhak untuk menjadi baik. Seyogyanya guru memposisikan diri sebagai seorang manajer baik di kelas maupun di lingkungan sekolah, agar kebiasaan dan karakter positif itu mengakar menjadi keyakinan dan budaya positif.

  1. Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Selain seorang guru di kelas saya juga diberi amanah sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Tentu banyak pengalaman dan kasus yang saya bantu pecahkan bersama teman-teman di sekolah. Pengalaman saya menggunakan konsep inti adalah ketika mendapati siswa yang terlambat mengumpulkan tugas-tugas di kelas yang saya ampu dan menangani siswa-siswi yang bermasalah di sekolah, berdasarkan laporan kepala asrama, Student Advisor (sebutan untuk pembimbing siswa sebanyak 1 sampai 13 orang siswa untuk 3 angkatan berbeda-pada sekolah asrama Pentagon) dan wali kelas di lingkup sekolah.  

Pada posisi Wakil kepala sekolah, saya berperan sebagai pemantau jika kasusnya bisa ditangani oleh pihak asrama dan wali kelas/Student Advisor, karena saya ingin menerapkan prinsip manajerial, hierarki atas penyelesaian masalah. Namun jika masalah itu tidak bisa ditangani lagi oleh asrama atau wali kelas/SA atau harus melibatkan wakil kepala sekolah dan untuk kasus di kelas saya, maka posisi yang saya lakukan adalah sebagai manajerial. Punketika siswa-siswi yang telah selesai ditangani oleh pihak asrama dan Wali kelas/SA maka anaknya akan saya panggil dan saya bertindak sebagai seorang manajer untuk penguatan karakter mereka. Menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan siswa dan menanyakan keyakinan hingga akhirnya siswa kembali ke kelas dengan perilaku dan semangat yang baik.

  1. Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Perasaan saya saat itu adalah sangat senang dan berbeda dari sebelumnya tetapi saya sangat senang dan bahagia melakukannya dan berada pada posisi itu. Saya merasa saya lebih bijak, lebih arif dan bisa menjadi teman diskusi bagi siswa indisiplin tersebut.

 

  1. Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Sebelum mempelajari modul ini, Posisi pemantau dan pembuat rasa bersalah yang paling sering saya lakukan. Perasaan saya saat itu kesal dan sedih, serta berusaha bagaimana caranya siswa menyadari kesalahannya dan berubah menjadi baik, disiplin.

Setelah mempelajari modul ini, posisi yang saya pakai adalah sebagai manajer. Perasaan saya senang, lebih arif dan bijaksana. Perbedaannya ada pada rasa dan sikap serta langkah yang diambil dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi siswa.

 

  1. Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Pernah, ketika siswa tidak mengumpulkan tugas. Posisi saya waktu itu sebagai Pembuat rasa bersalah. Saya panggil siswa tersebut, saya tanyakan mengapa dia tidak mengumpulkan tugas, sudah berapa kali tidak membuat tugas, menanyakan alasan mengapa ia tidak mengumpulkan tugas. Menanyakan kepada siswa tersebut apakah penjelasan yang saya berikan kurang jelas, apakah waktu yang saya berikan terlalu singkat baginya sementara dengan waktu yang diberikan semua teman-temannya bisa mengumpulkan tepat waktu bahkan ada yang di awal waktu, apakah tugas yang saya berikan berbeda dari teman-temannya, apakah saya tidak pernah mengoreksi atau tidak pernah menghargai sedikit saja hasil pekerjaannya dan siswa lain sehingga dia sampai tidak mengerjakan tugasnya. Di akhir saya  menyuruh siswa tersebut membuat tugasnya dan mengumpulkan tugas tersebut dalam waktu yang disepakati bersama.

 

  1. Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

v  Ada. Melakukan refleksi, diseminasi dan keyakinan sekolah tentang disiplin dan budaya positif sekolah dengan kepala sekolah dan rekan sejawat.

 

  1. Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Hal-hal yang sudah baik adalah sikap dan perlakuan guru ke siswa dan siswa ke guru. Menjadi komunikatif dan apresitif ketika posisi menejer dijalankan.

Ada hal yang perlu diperbaiki yakni keyakinan kelas, paradigma rekan sejawat terhadap hukuman dan imbalan, serta dalam penerapan budaya positif kelas dan sekolah.